Rabu, 17 April 2013


ISLAM DAN KEBAHAGIAAN
BAB I
PENDAHULUAN
Kebahagiaan hidup merupakan sesuatu yang pasti menjadi cita–cita semua orang dalam hidupnya. Kebahagiaan itu dapat berupa keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang dimiliki dengan baik serta benar maupun keberhasilan dalam menghindari penderitaan (musibah). Kebahagiaan seseorang dapat ia raih dari kemampuan dan tidaknya orang tersebut memenuhi kebutuhan keinginannya (dalam bentuk positif), berangkat dari kata hatinya yang tulus dan murni.
Kebahagiaan sesorang dapat berbeda-beda bentuk yang diinginkannya antara satu orang dengan orang yang lainnya. Karena bahagia bisa dikatkan relatif dan hal itu diakibatkan oleh adanya perbedaan persepsi, filosofi hidup, dan  prinsip hidup masing-masing orang. Akan tetapi, semua orang akan sepakat bahwa kebahgiaan adalah ketika ia mendapatkan apa-apa yang ia inginkan baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu muncul sebuah kata-kata plesetan “kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”.
Rumusan masalah
Pada makalah ini kurang lebih nantinya akan dibahas mengenai identifikasi masalah dari hakikat kebahagiaan itu sendiri, dan berbagai masalah yang ada dalam usaha sesorang mencapai kebahagiaan dan berbagai jenis kebahagiaan dari beberapa sudut pandang.
1.      Apa itu kebahagiaan?
2.      Bagaimanakah makna kebahagiaan menurut para ahli?
3.      Apa sajakah faktor pendukung datangnya kebahagiaan seseorang?
4.      Apakah penghalang kebahagiaan seseorang?
5.      Bagaimana konsep kebahagiaan menurut ajaran agama Islam?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Makna Kebahagiaan
Bahagia dan sejahtera adalah relatif. Semua orang akan memberikan komentar yang tidak sama tentang konsep kebahagiaan itu sendiri, baik faktor kebahgiaan itu sendiri ataupun penyebab sebuah kebahgiaan. Bahagia dapat dikatakan oleh orang yang tidak menempati bahwa yang dilihat itu adalah tempat bahagia, atau dapat dikatakan dan dirasakan dalam bayangan kalau yang dideritanya hilang dari dirinya.
Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata yang lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan amat berkait dengan sesuatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkait dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua-dua perasaan ini adalah amat berkait dan juga amat subjektif. (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kebahagiaan)
Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti peredaran masa dan tempat. Orang yang kelihatan bahagia tidak semestinya bahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia tidak semestinya tidak bahagia. Cuma orang itu sendiri yang tahu (yaitu berasa) sama ada dia bahagia atau tidak.
B.     Makna kebahagiaan menurut para ahli
Definisi kebahagiaan menurut Puspoprojo adalah keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik secara lebih spesifik ia memfokuskan pendapatnya pada konsep seseorang dapat merasa puas dan pasti mampu membatasi keinginan-keinginannya dengan membuat kompromi yang bijaksana. Tetapi, ada satu hal penting yang menurutnya perlu diberi perhatian khusus adalah bahwa kepuasan jasmani semata bukanlah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah keadaan subjektif yang menyebabkan seseorang merasa dalam dirinya ada kepuasan keinginannya dan menyadari dirinya memiliki sesuatu yang baik. Keadaan semacam itu hanya ada dalam sesuatu yang mampu merenungkan dirinya dan sadar akan dirinya, yaitu makhluk yang berakal budi.
Kebahagiaan tidaklah sama dengan kegembiraan atau kesenangan. Kebahagiaan adalah suatu keadaan yang berlangsung (a lasting condition) dan bukanlah suatu perasaan atau emosi yang berlalu. Secara umum boleh jadi seseorang merasa bahagia meskipun ia sedang menderita kesedihan, demikian pula seseorang yang mengalami ketidakbahagiaan yang kronis juga bisa mengenal saat-saat gembira. Juga kebahagiaan bukanlah suatu disposisi atau sikap jiwa yang riang gembira, meskipun tidak disangkal bahwa hal-hal tersebut bisa menolong ke arah kebahagiaan. Sebab sebagian orang dapat memiliki perilaku demikian meskipun dalam menghadapi kekecewaan.
Filsafat moral memandang kebahagiaan kodrati saja (natural happiness). Kebahagiaan kodrati adalah pemuasan segala hasrat yang termasuk dan muncul dari kodrat telanjang manusia (man’s bare nature).
1.      Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan bukanlah suatu perolehan untuk manusia dan corak bahagia itu lain-lain dari berbagai ragam, menurut corak dan ragam orang yang mencarinya. Kadang-kadang sesuatu yang dipandang bahagia oleh seseorang, tidak demikian oleh orang lain, sebab kebahagian merupakan suatu kesenangan yang dicapai oleh setiap orang menurut kehendak masing-masing. Ia juga berpendapat bahwa bahagia itu bukan mempunyai arti dari satu kejadian, melainkan berlainan coraknya menurut tujuan masing-masing manusia. Bahagia adalah tujuan akhir tiap-tiap manusia. Pendapat Aristoteles tersebut akan semakin beda apabila dipadukan dengan pendapat Hendrik Ibsen, yang secara mendasar ia frustasi dan kecewa dengan realitas kebahagiaan.
2.      Hendrik berpendapat bahwa mencari kebahagiaan itu hanya menghabiskan umur, karena jalan untuk menempuhnya sangat tertutup. Setiap usaha untuk melangkah ke sana senantiasa memperoleh kecewa, karena mula-mula orang yang menujunya menyangka bahwa perjalanan telah dekat, tetapi secara nyata sangat jauh. Menurutnya, manusia belum pernah mencapai bahagia sebab setiap jalan yang ditempuh menjauhkan jalan manusia kepadanya.
3.      Leo Tolsyoy berargumen bahwa yang menjadi sebab manusia putus asa di dalam mencari kebahagiaaa ialah karena bahagia itu diambilnya untuk dirinya sendiri bukan untuk bersama. Padahal segala bahagia yang diborong untuk sendiri itu mustahil berhasil karena bahagia semacam itu selalu mengganggu kebahagiaan orang lain. Orang lain yang terganggu akhirnya responsif jika ia tersinggung dan berusaha mempertahankan diri oleh sebab itu bukan lagi menuntut bahagia memberi keuntungan, tetapi memberi kerugian bersama, pendapat Tolstoy ini mendapat pengakuan dari Bertrand Russel dan George Bernard Snaw.
4.      Louis O.Kattsoff mengkaji kebahagiaan dengan mengkorelasikan etika. Diawal kajiannya ia suatu ajaran yang mendasarkan diri pada suatu tujuan. Tujuan berupa keselamatan abadi dan suatu teori yang memberi titik berat pada kenikmatan atau kebahagiaan dikatakan bersifat hedonistik. Hedonisme adalah suatu teori yang mengatakan bahwa kenikmatan atau akibat-akibat nikmat dalam diri manusia sudah mengandung kebahagiaan.
C.    Faktor pendukung datangnya kebahagiaan
Di bawah ini merupakan beberapa faktor atau hal yang dapat menjadikan kebahagiaan seseorang. Bila beberapa hal di bawah ini dapat terpenuhi oleh manusia, maka dapat dikatakan ia akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.
1.      Berkesempatan dalam menuntut ilmu
Bila seseorang ingin mendapatkan apa yang ia cita-citakan maka  suatu hal yang harus ia usahakan adalah belajar dan mengetahui syarat-syarat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dan salah satunya adalah lewat jalur pendidikan. Dengan prestasi ia akan lebih mudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
2.      Berhasil membina keluarga
Mendapatkan keluarga yang bahagia adalah dambaan setiap orang. Oleh karena itu jika seseorang bisa membina keluarga dengan baik, mempunyai anak-anak yang sukses, shalih dan berbakti kepada orang tua adalah kebahgiaan tersendiri. Karena salah satu penolong orang tua ketika ia di akhirat adalah anak yang berbakti kepada orang tua.

D.    Penghalang datangnya kebahagiaan
Dari beberapa orang yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah merasakan dan mengeluh tentang penyebab tidak hadirnya suatu kebahagiaan yang sangat mereka harapkan dan diimpikan. Beberapa hal di bawah mungkin adalah penyebabnya, baik itu berasal dari keluarga, lingkungan masyarakat, lingkugan pendidikan dan teruatama adalah nikmatnya beribadah dengan Allah.
1.      Kemiskinan
Kemiskinan atau kefakiran adalah ketidakmampuan usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sebagaimana layaknya kebanyakan orang yang tinggal di lingkungan tertentu dan pada saat tertentu pula. Kemiskinan adalah hal klasik yang menjadi masalah kenapa orang tidak bahagia dalam hidupnya.
Kemiskinan merupakan suatu keadaan yang paling tidak diinginkan oleh semua orang. Karena dengan keadaan tersebut orang menjadi serba tidak mampu memenuhi, atau sekedar memuaskan keinginan yang sangat ia dambakan. Walaupun sudah banyak orang yang percaya bahwa kehidupan yang kekal nanti adalah kehidupan akhirat akan tetapi semua orang juga percaya dan meyakini bahwa untuk  menggapai kebahagiaan akhirat juga diawali dengan kebahagiaan di dunia untuk menggapai akhirat.
2.      Perceraian
Mendapatkan dan memiliki keluarga yang langgeng, sakinnah mawaddah wa rahmah  adalah dambaan dari setiap manusia. Akan tetapi karena berbagai macam halangan dan cobaan yang dihadapi, kadang ada satu penyebab kenapa keluarga yang tadinya ia dambakan tidak terwujud, dan salah satu penyebab yang mungkin sering terjadi di kalangan masyarakat adalah perceraian. Hal itu jelas sangat mempengaruhi ketenangan seseorang dalam berumah tangga khususnya dalam membentuk keluarga.
3.      Kejahatan
Merupakan suatu luapan emosi seseorang atas ketidakpuasan atau pelampiasan rasa kesal dan kecewa terhadap suatu realita keadaan yang ia hadapi atau juga dapat diakibatkan oleh penderitaan hidup, tekanan batin, atau pelecehan dan penghinaan oleh sekelompok orang tertentu.
Dilihat dari kondisi pelakunya kejahatan dapat dipicu oleh dua faktor :
Pertama, kurangnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Dia tidak bisa menerima hal ini dengan penuh hikmah. Oleh karena itu, dia tidak bahagia dengan apa yang dihadapinya saat ini
Kedua, karena ambisi negative yang membabi buta, ingin mendapatkan segalanya dengan instant dan cepat dan tidak perlu menunggu waktu lama dengan menghalalkan segala cara apapun itu.[1]

E.     Konsep Kebahagiaan dalam Islam
Pada uraian sebelumnya telah dijelaskan mengenai makna bahagia dan jalan menempuh kebahagiaan dari berbagai sudut pandang. Dan sekarang akan dibahas lebih lanjut lagi konsep kebahagiaan yang diatur dan dijelaskan dalam ajaran agama Islam.
Dalam Islam, pusat segala kebahagiaan adalah saat seseorang bertemu dengan Sang Khaliq. Tentu bukan dengan makna bahwa seseorang harus mati terlebih dahulu untuk menggapai sebuah kebahagiaan, walaupun memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mati adalah ujung dari setiap perjalanan hidup manusia.
Kunci kebahagiaan umat Islam adalah takwa. Selama seseorang terus bertakwa, sesulit, sebesar apapun coabaan orang pasti akan merasa tenang dan bahagia karena ia telah yakin bahwa Rab-nya selalu ada di sisinya dan selalu siap memberikan bantuan kepadanya ketika ia menghadapi banyak cobaan dan musibah. Baik susah maupun senang ia selalu dekat dengan Rab-nya. Jadi ketenangan dan kebahagiaan adalah bersumber dari Rab-nya yaitu Allah swt.
Kebahagiaan dalam pandangan agama Islam bertumpu pada upaya untuk tidak kecewa dengan apapun yang diterima dari Allah. Sedikit atau banyak tetap disyukuri dan diterima sebagai yang terbaik menurut pilihan Allah swt, dengan kata lain orang harus bersifat qana’ah.
Qana’ah terdiri dari lima aspek yang terkait langsung dengan kehidupan manusia, antara lain:
1.      Menerima dengan rela apa yang diberikan Allah.
2.      Memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan tetap berusaha.
3.      Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah
4.      Bertawakal kepada-Nya
5.      Tidak tertarik dengan tipu daya kesenangan dunia.
Kelima aspek diatas praktis mengarahkan kita kepada kebahagiaan. Dengan sikap qana’ah, seseorang akan silau dengan prestasi yang telah diraih oleh orang lain tetapi sibuk mengelola dan mengurus apa yang sudah diterimanya dan berusaha mensyukurinya. Demikian pentingnya sikap ini sehingga Rasulullah saw menganggapnya sebagai “harta” yang tidak akan hilang.
Rasulullah bersabda :
القناعة مال لاينفد وكنزلايفنى (رواه الطبرانى)
Artinya :
“Qana’ah adalah harta yang tidak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap”
Diperjelas melalui sanad Ibnu Abbas ketika Rasulullah saw menemui para sahabat Anshar beliau bertanya “apakah kalian orang-orang mukmin?” lalu mereka pun diam, lalu Umar Ibnul Khathab berkata, “benar ya Rasulullah,” beliau bertanya lagi, “apakah tanda keimananmu?”, mereka berkata, “kami bersyukur menghadapi kelapangan, besabar menghadapi bencana, dan ridha dengan qadha (ketetapan Allah)
Oleh karena itu, sesuatu yang dapat melanggar dan melawan sunnatullah adalah jika seseorang menginginkan kebahagiaan tetapi tidak mengeluarkan keringat, bermalas-malasan, dan tidur sepanjang hari. Ketenangan tidak diraih dari sana, tetapi dari jiwa yang diisi dengan iman dan takwa dan menyikapi kehidupan ini secara tepat. Berkaitan dengan ini, Hitai’inah, seorang penyair membuat sepatah syair yang memiliki maka yang sangat mendalam yaitu
“Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpulkan harta,
Tetapi takwa kepada Allah itulah dia bahagia
Takwa kepada Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan.
Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan bagi orang yang bertakwa”[2]
Dalam suatu penggalan hadits juga disebutkan mengenai penjelasan yang lebih rinci mengenai makna dan hakikat bahagia yang sebenarnya :
وَاِنِ امْرُءٌ يُمْسِى وَيُصْبِحُ سَلِيمًا مِنَ النَاسِ اِلَّا مَا مَضَى لَسَعِيْدٌ
 (الحديث)
Artinya:
“jika petang dan pagi manusia telah mendapatkan aman dan sentosa dari gangguan manusia itulah dia orang yang bahagia”


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Kebahagiaan ialah suatu keadaan perasaan aman damai serta gembira. Dengan kata yang lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan amat berkait dengan sesuatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkait dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun, kedua-dua perasaan ini adalah amat berkait dan juga amat subjektif
2.      Kebahagiaan seseorang tidak dapat diukur atau digambarkan, dan berubah-ubah mengikuti peredaran masa dan tempat. Orang yang kelihatan bahagia tidak semestinya bahagia, dan orang yang kelihatan tidak bahagia tidak semestinya tidak bahagia.
3.      Kunci kebahagiaan umat Islam adalah takwa. Selama seseorang terus bertakwa, sesulit, sebesar apapun coabaan orang pasti akan merasa tenang dan bahagia karena ia telah yakin bahwa Rab-nya selalu ada di sisinya dan selalu siap memberikan bantuan kepadanya ketika ia menghadapi banyak cobaan dan musibah.















DAFTAR PUSTAKA

1.      Anwar Sanusi. Jalan Kebahagiaan. Gema Insani Press. Jakarta. 2006
2.      S. Ansory. Jalan Kebahagiaan Yang Diridhai. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta . 1997



[1] S. Ansory, jalan kebahagiaan yang diridhai. Hal-139
[2] Anwar Sanusi. Jalan Kebahagiaan. Hal-21

Selasa, 27 Maret 2012

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM.

Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar yang disediakan bagi siswa di sekolah. Kurikulum itu disusun bukan karena tidak ada alasan. Karena, dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan yang pada akhirnya akan mengantarkan seorang pendidik kepada suatu tujuan nasional, yaitu mencerdaskan anak bangsa. Pengembangan kurikulum dilakukan oleh beberapa subject (pelaku), diantaranya adalah ahli ilmu Paedagogik (pendidikan), ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, pengusaha, serta unsur-unsur dalam masyarakat lainnya. Dan itulah yang menyebabkan kurikulum itu bersifat dinamis sesuai dengan perubahan dalam aspek-aspek lainnya dalam masyarakat.

Secara garis besar dapat diklasifikasikan beberapa faktor yang membuat kenapa kurikulum dalam lembaga pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah itu selalu berubah dari masa ke masa.

I. Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi sebagai pencetak calon generasi pendidik merupakan salah satu faktor yang vital dalam pengembangan kurikulum. Hal ini bisa dikonkritkan dengan suatu keadaannya, yaitu dengan kemampuan sebuah perguruan tinggi untuk mencetak seorang guru yang mampu menguasai suatu ilmu pengetahuan berupa bidang studi tertentu dan kemampuan seorang guru tadi untuk menerapkan kemampuan dan nalurinya sebagai seorang guru untuk kritis terhadap apa yang terjadi di dalam proses pengajaran di sekolah. Karena pada akhirnya kelas sebagai tempat mengajarlah yang nantinya akan menjadi tolak ukur keberhasilan seorang pendidik memberikan solusinya mengenai cara mengajar agar nantinya suatu materi dapat tersampaikan. Jadi ketika sebuah perguruan tinggi mampu mengarahkan seorang calon guru kepada refleksi terhadap apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat agar pendidikan sampai pada tujuannya, kritis terhadap fakta pendidikan yang terjadi, kemudian memberikan sebuah solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi dengan menanamkan kepada calon guru kerangka berfikir yang terlatih dengan problem solving (pemecahan masalah) maka sukseslah apa yang diharapakan oleh sebuah perguruan tinggi sebagai Agen Of Change dalam dunia pendidikan. Karena, idealnya lembaga pendidikan adalah sebagai subjek perubahan dalam segala aspek, termasuk juga masalah karakter.

Dalam perguruan tinggi setidaknya ada dua aspek pengaruh yang menentukan keberhasilan pengembangan kurikulum,

1. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Oleh karena itu, dalam pengajaran di perguruan tinggi sering diterapkan suatu metode belajar diskusi. Hal ini dipilih karena untuk melatih seorang calon guru yang menguasai kemampuan verbal mereka dan sifat kritis mereka melalui kajian-kajian faktual dan update terhadap apa yang terjadi dan pada akhirnya akan membuahkan solusi-solusi yang efektif dan relevan.

2. Pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Dalam hal ini yang dimaksud ialah kemampuan seoarang calon guru menguasai suatu ilmu tentang mengajar dan mendidik baik secara teoritis dan juga secara praktis.

II. Masyarakat

Lembaga pendidikan sebagai bagian dari masyarakat dan merupakan agen sosial yang mendapat kepercayaan dari masyarakat dimana lembaga pendidikan itu berada, maka idealnya lembaga pendidikan haruslah mencerminkan kondisi dan tuntutan dalam masyarakat dalam hal pemberian isi kurikulumnya, baik dari segi cara menyampaikan kurikuler tertentu dan kurikuler yang disampaikan. Hal yang harus diperhatikan juga adalah objek pendidikan itu sendiri, masyarakat yang disekolah itu heterogen atau homogen, masyarakat desa atau kota, petani atau pedagang dan juga beberapa aspek lainnya dimana proses pendidkan itu harus mencerminkan sebuah Pendidikan Multikultural. Sebagai salah satu contoh, seorang pendidik tidak bisa memberikan suatu kuliah tentang Kesalahan Konsep Tuhan yang dianut oleh orang kristen tentang trinitas, padahal pada kesempatan itu tidak semua yang hadir dalam kuliah adalah orang yang bertauhid (Islam) ada beberapa peserta didik yang kristen.

Disamping itu, yang perlu dijadikan suatu pedoman adalah Lembaga pendidikan harus bisa menampung aspirasi yang diinginkan oleh masyarakat dimana lembaga pendidikan itu berdiri. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha yang ada dalam masyarakat. Pengembangan kurikulum yang diterapkan lembaga pendidikan harus bisa mempersiapkan suatu graduate (lulusan) yang tidak hanya mampu untuk hidup, tetapi juga untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan dan perusahaan yang ada dalam masyarakat menuntut persiapan untuk menghadapi tantangan global yang ada di lembaga pendidikan dimana masyarakat menitipkan amanat kepada lembaga pendidikan. Oleh karena itu, fakta yang ditemukan sekarang adalah menjamurnya lembaga pendidikan baik formal atau informal yang menawarkan jasanya untuk membentuk seorang peserta didik yang berani menghadapi tantangan zaman dan sekolah-sekolah kejuruan yang semakin lebih diminati.

III. Sistem Nilai

Dalam kehidupan masyarakat terdapat sistem nilai, baik nilai moral, etika, keagamaan, sosial, budaya, maupun nilai politis. Lembaga pendidikan sebagai bagian dari masyarakat bertanggung jawab dalam penerusan dan pemeliharaan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, sistem nilai itu harus terintegrasikan dengan kurikulum yang diterapakan. Pasti akan ada perbedaan antara sistem nilai yang diserapkan dalam kurikulum di negara Indonesia yang menganut sistem nilai moral Pancasila dengan negara di Arab Saudi yang bersistem nilaikan syari’at islam.

Masalah yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum adalah masyarakat itu tidak hanya ada satu nilai saja, masyarakat umumnya multietniss dan dan multifaset yang secara otomatis memiliki sistem nilai yang berbeda yang dijunjung tinggi, baik dalam aspek sistem nilai politik, sosial, estetika, etika, religius, dsb. Kesemuanya itu adalah bersifat subjektif dan relatif dalam sebuah kelompok masyarakat.

Oleh karena itu seorang pendidik harus memperhatikan sistem nilai yang ada dan berlaku dalam sebuah tatanan masyarakat tertentu. Agar dalam perjalanannya, sistem nilai tidaklah menjadi sebuah masalah yang dapat menganngu berjalannya proses pendidikan. Beberapa hal yang harus diketahui dan dipahami oleh pendidik mengenai sistem nilai adalah;

1. Pendidik hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.

2. Pendidik hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi , etis, dan moral.

3. Pendidik berusaha menjadi teladan yang patut ditiru, guru (digugu lan ditiru)

4. Pendidik menghargai nilai-nilai kelompok lain.

5. Memahami dan menerima keragaman dan kebudayaan sendiri.

Disamping beberarap faktor diatas, ada juga beberpa hambatan yang mejadikan kurikulum tidak bisa berkembang sebagaimana yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan. Beberapa hambatan tersebut terletak pada;

Faktor Intern; Pendidik (Lembaga Pendidikan)

Pendidik yang kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal tersebut terjadi karena;

1. Kurangnya waktu

2. Kekurang sesuaian pendapat baik antara sesama pendidik, kepada kepala sekolah dan juga kepada adminstrator

3. Kemampuan dan pengetahuan pendidik sendiri

Faktor Ekstern;

· Masyarakat

Walaupun secara tidak langsung, ternyata dukungan dari masyarakat dan khususnya kepada orang tua peserta didik ternyata sangat mempengaruhi dan kadang bisa menghambat tidak berkembangya kurikulum yang telah disusun sedemikian rupa. Dukungan dari masyarakat yaitu berupa dalam dalam aspek pembiayaan dan juga feed back (umpan balik) terhadap sistem yang telah diberlakukan. Karena, masyarakat adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, serta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.

· Finansial

Dalam mencapai sebuah tujuan pendidikan dan output memuaskan dari pendidikan yang dicita-citakan biaya merupakan sebuah alasan klasik kenapa pendidikan di Indonesia tidak dapat berkembang secara signifikan, fasilitas, sarana dan prasarana yang kurang memadai selalu menjadi tuntutan yang harus terpenuhi dalam mengembangkan keilmuan dari peserta didik. Dan jelas, secara keseluruhan hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

v SEBUAH LANGKAH PENGEMBANGAN KURIKULUM

Salah satu model pengembangan kurikulum adalah ada yang disebut dengan Beauchamp’s system. Dalam model ini ia menerangkan bahwa dalam pengembangan kurikulum itu ada 5 aspek yang perlu diperhatikan dan diterapkan;

I. Menetepkan arena atau lingkup wilayah

Dalam proses ini seorang pengambil kebijakan dalam pengembangan kurikulum menetapakan suatu cakupan yang akan menjadi daerah pengembangan kurikulum tersebut, apakah bersifat regional daerah atau nasional. Dan nanti akan ada satu wilayah yang dijadikan sebagai pilot proyek.

II. Menetapkan Personalia

Langkah ini adalah penetapan orang yang akan turut terlibat dalam pengambangan kurikulum diamana pada saat itu ada 4 kategori orang yang turut terlibat dan berpartisipasi yaitu;

1. Para ahli pendidikan/ kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan para ahli bidang ilmu dari luar.

2. Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih

3. Para professional dalam system pendidikan

4. Professional lain dan tokoh masyarakat

III. Organisasi dan Prosedur Pengembangan Kurikulum

Yaitu sebuah langkah dimana sang pemegang kebijakan dalam pengembangan kurikulum merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi dan dalam menentukan seluruh desain isi kurikulum. Dalam tahap ini sang pengembang kurikulum menjalani beberapa langkah

1. Membentuk tim pengembang kurikulum

2. Mengadakan penilain atau penelitian terhadap kurikulum yang sedang diterapkan

3. Studi penjagaan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.

4. Merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru

5. Penyusunan dan penulisan kurikulum baru

IV. Implementasi Kurikulum

Yaitu langkah dimana suatu model kurikulum dilaksanakan. Pada tahap ini merupakan suatu tahapan dimana kurikulum itu benar-benar diuji kelayakannya. Diwaktu yang sama, semua yang terlibat dalam proses pendidikan harus bisa menyiapkan segalanya, baik dari kesiapan dang pendidik itu sendiri, kesiapan siswa, fasilitas yang menunjang, bahan ajar, biaya, dan tidak kalah juga kesiapan manajerial dari pimpinan lembaga pendidikan atau administrator setempat.

V. Evaluasi Kurikulum

Dalam langkah ini minimal mencakup 4 hal;

1. Evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh para pendidik

2. Evaluasi desain kurikulum

3. Evaluasi hasil belajar peserta didik

4. Evaluasi dari keseluruhan system kurikulum

Data yang diperoleh dari penilaian evaluasi diatas adalah yang dijadikan suatu koreksi untuk penyempurnaan serta prinsip-prinsip yang mendasarinya.

Writen by

Fadhan Anwarodin/ 11410168

SUMBER REFERENSI

Sukmadinata, Nana S. Pengembangan Kurikulum, teori dan praktek. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2010