Selasa, 13 Desember 2011

EKSPLORASI AL QUR'AN dan HADITS TENTANG AKHLAQ

Eksplorasi Al-Qur’an Dan Hadis Dalam Akhlak Bergaul

Eksplorasi Al-Qur’an dan Hadits mengenai akhlak dalam bergaul sangatlah perlu dilakukan, mengingat Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi orang muslim. Secara langsungnya Nabi Muhammad dibimbing langsung oleh Allah dengan wahyu Allah sehingga Nabi Muhammad memiliki budi pekerti yang agung. Seperti dalam Firman Allah,

وَاِنَكَ لَعَلَي خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam (68) : 4)

Dari itulah Nabi Muhammad atas ijin Allah diutus untuk menjadi suri tauladan yang baik dan member petunjuk akan jalan yang lurus.

وَاِنٌَكَ لَتَهْدِيْ اِلَي صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura (42) : 52)

Salah satu diantara penyempurnaan akhlak yang dicontohkan Nabi Muhammad ialah juga dalam keseharian Nabi ialah kesabaran beliau, diantara Firman Allah,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلاٌَبِاللٌَهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl (16) : 127)

فَاصْبِرْ عَلَي مَا يَقُوْلُوْنَ

“maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan.” ( QS. Taahaa (20) : 130)

Selain kesabaran, beliau ialah seorang yang rendah diri, adapun hadis yang disabdakan oleh beliau,

اِنٌَمَا اَنَا عبد اكل كما ياكل العبد واجلس كما يجلس العبد

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang makan sebagaimana seorang hamba makan dan duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (Hadits diketengahkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam Az-Zuhd 1/6, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 1/37 dan lihat Kasyful 1/17)

Dalam konteks rendah diri, tentunya Nabi Muhammad juga mengharamkan kita bertakabbur. Dalam sabdanya,

يحشر المتكبرون يوم القيامة في صورة الذريغشاهم الذل من كل مكان

“Orang-orang yang takabur akan dihimbaukan pada hari kiamat nanti dalam bentuk seperti semut-semut yang paling kecil diliputi oleh kehinaan dari segala penjuru.” (Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad 6639 dan Imam Tirmidzi 2492. Kasyful Khafa 3236)

Kita juga dianjurkan untuk menjadi orang yang pemaaf,

فَاصْفَحِ الصٌَفْحَ الْجَمِيْلَ

“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” ( QS. Al-Hijr (15) : 85)

Larangan marah,

وَالْكَا ظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النٌَاسِ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.” (QS. Ali Imran (3) : 134)

Dan masih banyak lagi eksplorasi Al-Qur’an dan hadis mengenai akhlak bergaul dan berperilaku.

Secara umum dibagi menjadi dua yaitu ;

A. AKHLAQ TERPUJI

1. Tolong Menolong

Dalam Al Qur’an surat Al-Anfaal (Al-Anfal) [8] : ayat 74 Allah berfirman ;

http://bahagia.us/_latin/8/8_74.png

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”

Senantiasa tolong menolong dalam hal kebaikan merupakan sebuah ibadah asalkan kita melakukannya dengan tulus ikhlas. Karena pertolongan Allah akan senantiasa datang kepada hambaNYA yang selalu menolong sesama mereka. Kita hanya dianjurkan oleh Allah untuk senantiasa tolong menolong dalam hal kebaikan dan dilarang untuk tolong menolong dalam ha kemaksiatan.

Dalam firmanNYA disebutkan; http://bahagia.us/_latin/5/5_80.png

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.” (QS. (Al-Maidah) [5] : ayat 80)

Dianjurkannya tolong menolong dalam hal kebaikan juga disebutkan dalam firmanNYA ;

http://bahagia.us/_latin/9/9_71.png

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah [9] : ayat 71)

Firman diatas memberikan penjelasan bahwa orang yang selalu tolong menolong sesama mereka dalam hal kebaikan akan senantiasa diberikan rahmat oleh Allah. Tidak hanya mementingkan keperluan sendiri (egois). Bahkan tolong menolong itu lebih diutamakan dari pada hanya beribadah demi kepentingan sendiri.

Dalam Al Qur’an Surat. Al-Baqarah [2] : ayat 177 disebutkan ;

http://bahagia.us/_latin/2/2_177.png

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

2. Persaudaraan Islami ( Ukhuwah Islamiyah)

I. Pengertian Ukhuwah Islamiyah.

Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara. Masyarakat Muslim mengenal istilah Ukhuwah Islamiyah. Istilah ini perlu disederhanakan maknanya, agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancauan. Untuk itu, terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiyah dalam istilah diatas. Selama ini ada kesan bahwa istilah teresebut bermakna “persaudaraan yang dijalin oleh sesama muslim”, atau dengan kata lain , kata “islamiyahdijadikan sebagai pelaku ukhuwah itu. Pemahaman ini kurang tepat. Kata Islamiyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjekti, sehingga ukhuwah islamiyah berarti “persaudaraan yang bersifat islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak ada dua alasan untuk mendukung pendapat ini. Pertama, Al-Qur’an dan Hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan. Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan kata yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminim, maka kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata “Ukhuwah Islamiyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyah”. Kata ukhuwah berakar dari kata kerja akha, misalnya dalam kalimat “akha fulanun shalihan”, (Fulan menjadikan Shalih sebagai saudara).

II. Macam Macam Ukhuwah Islamiyah

1. Ukhuwah ‘Ubudiyah atau saudara kesemahlukan dan kesetundukan kepada Allah.

2. Ukhuwah Insaniyah (basyariyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu.

3. Ukhuwah Wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan

4. Ukhuwah fi din Al-Islam, persaudaraan antarsesama Muslim.

III. Hal yang menguatkan Ukhuwah Islamiyah

1. Memberitahukan kecintaan kepada yang dicintai

Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasulullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.

2. Memohon didoakan bila berpisah

“Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu”.

(HR Muslim)

3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa

“Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim)

4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim)

“Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)

5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara).

6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu

7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya.

8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.

9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan.

Untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya Ukhuwah Islamiyah antara lain :

v Melaksanakan Proses Ta’aruf

Ta’aruf adalah saling mengenal sesama manusia. Saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT . Adanya interaksi dapat membuat ukhuwah lebih solid dan kekal. Hal yang perlu kita kenal meliputi pengenalan fisik (jasadiyan), pengenalan pemikiran (fikriyan), pengenalan kejiwaan (nafsiyan).

v Melaksanakan Proses saling memahami (Tafahum)

Tafahum adalah saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Saling memahami adalah kunci kuatnya ukhuwah islamiyah.

v Melakukan At-Ta’aawun

Bila saling memahami sudah lahir, maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan aman (saling bantu membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain.

v Melaksanakan Proses Takaful

Yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi kepada sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW

“Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri”. (HR. Bukhari-Muslim).

3. Berbakti Kepada Orang Tua

Tauhid Dan Bakti Kepada Kedua Orang Tua, Dua Sayap Yang Harus Saling Bersanding. Hak kedua orang tua atas anak-anak mereka sangat agung. Karena itu, Allah menyandingkan perintah untuk beribadah kepadaNya dengan keharusan berbakti kepada mereka berdua.

Allah berfirman ;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu. (Al Isra`: 23).

Lantaran begitu tingginya hak mereka, Allah memerintahkan kita untuk selalu menyuguhkan kebaikan kepada mereka dan berinteraksi dengan mereka dengan sikap yang ma'ruf (pantas). Kendatipun mereka dalam kungkungan kekafiran. Sekalipun mereka memaksamu, wahai sang anak, untuk menyekutukan Allah dengan obyek yang tidak jelas kedudukannya. Allah berfirman:

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergauilah kedunya dengan baik". (Luqman: 15).

Saking besarnya martabat mereka dipandang dari kacamata syari'at, Nabi mengutamakan bakti kepada mereka atas jihad fi sabilillah. Ibnu Mas'ud berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah,"Amalan apakah yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab,"Mendirikan shalat pada waktunya." Aku bertanya kembali,"Kemudian apa?" Jawab Beliau,"Berbakti kepada ke orang tua," lanjut Beliau. Aku bertanya lagi,"Kemudian?" Beliau menjawab,"Jihad di jalan Allah." [HR Bukhari No. 5.970].

Perlu dipahami, perintah berbakti kepada Allah merupakan titah ilahi yang sudah berlaku pada umat sebelumnya. Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِى إِسْرَاءِيلَ لاَ تَعْبُدُونَ إِلاَّ اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin… (Al Baqarah:83).

Demikian juga Allah menyanjung para nabi karena telah berbuat baik dengan baktinya kepada orang tua. Secara khusus, Allah menyebut nama Nabi Yahya atas baktinya kepada kedua orang tuanya yang telah tua renta. Dan bakti akan bernilai lebih tinggi, tatkala dilaksanakan dalam waktu yang dibutuhkan. Masa tua dengan segala problematikanya adalah masa yang sangat membutuhkan perhatian ekstra, terutama dari orang terdekat, anak-anaknya. Allah berfirman:

وَبَرَّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. (Maryam:14).

Begitu pula Allah memuji Nabi Isa, lantaran beliau telah melayani sang ibu dengan sepenuh hati, dan bahkan merasa mendapat kehormatan dengan sikapnya itu. Allah berfirman:

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku dan Dia (Allah) tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (Maryam:32).

Keharusan Berbakti Kepada Orang Tua Sepanjang Masa

Bagaimana saya harus berbakti kepada orang tua? Mungkin pertanyaan ini pernah mengganggu dan membingungkan kita. Dalam masalah ini, sebenarnya Al Quran telah memaparkannya secara gamblang melalui ayat (artinya): "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua". [Al Isra`: 23].

Saat menafsirkan ayat di atas, Syaikh As Sa'di menyatakan: "Berbuat baiklah kepada mereka berdua dengan seluruh jenis kebaikan, baik dengan ucapan maupun tindakan". Pasalnya, perintah dalam ayat itu dengan kalimat yang menunjukkan keumuman, sehingga mencakup seluruh jenis kebaikan, disenangi anak ataupun tidak, tanpa perdebatan, membantah atau berat hati. Perkara ini harus benar-benar diperhatikan. Sebab, sebagian orang melalaikannya. Mereka mengira, berbakti kepada orang tua hanya terbatas dengan melakukan apa yang disenangi anak saja. Padahal, hakikat berbakti tidak sekadar seperti itu. Bakti yang sejati tercermin dengan ketaatan anak kepada perintah orang tua. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan anak.

4. Senantiasa Berendah Hati

Rendah hati mestinya kita terapkan dalam sikap keseharian kita agar kita tidaklah menjadi pribadi sombong dan takabur. Adanya sikap rendah diri pada diri sendiri membuat kita mudah diterima dan disenangi orang lain karena merasa sejajar dan menghargai. Rendah diri bukan pula berarti minder atau merasa ciut dan menjadi enggan menampakkan diri kita, namun adalah sikap yang menegar dan disertai keasoran. Sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW. dalam sabdanya,

اِنٌَمَا اَنَا عبد اكل كما ياكل العبد واجلس كما يجلس العبد

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba yang makan sebagaimana seorang hamba makan dan duduk sebagaimana seorang hamba duduk.” (Hadits diketengahkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam Az-Zuhd 1/6, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat 1/37 dan lihat Kasyful 1/17)

5. Sabar dan Tidak Mudah Marah serta Pemaaf

Kesabaran tentulah menjadi benteng utama dalam kita menghadapi pernyataan-pernyataan yang timbul dalam keseharian kita, baik itu pernyataan yang bersifat baik (menggembirakan) maupun yang tidak kita sukai. Dikhusukan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan orang lain, bersabar adalah sikap yang sangat baik ditunjukkan sebagai kita umat Islam. Firman Allah SWT,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلاٌَبِاللٌَهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl (16) : 127)

فَاصْبِرْ عَلَي مَا يَقُوْلُوْنَ

“maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakana.” ( QS. Taahaa (20) : 130)

Nabi Muhammad SAW. bersabda

لا تغضب ! لا تغضب ! لا تغضب !

“Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah!”

Beliau mengulang larangan tersebut sebanyak tiga kali, berarti sangat dianjurkan dan ditekankan untuk kita menghindari kemarahan. Sebaliknya kita mestinya bersabar dan menahan amarah dalam menghadapi perkara yg tidak kita sukai. Selain bersabar dan menahan amarah, kita juga dianjurkan memaafkan kesalahan orang lain kepada kita. Firman Allah SWT,

وَالْكَا ظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النٌَاسِ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.” (QS. Ali Imran (3) : 134)

6. Menutup Aurat

Menutup aurat merupakan salah satu syarat syahnya shalat seseorang, tidak bisa dikatakan sah, bila aurat tidak tertutup. Firman Allah SWT :

“Hai Anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid” ( Al A’raf : 31 )

Dzhohir kita dalam menutupi aurat mempergunakan pakaian yang memenuhi kriteria suci dari hadats dan suci dari status kepemilikan, artinya pakaian yang dipakai halal adanya. Apabila dua kriteria tersebut tidak terpenuhi maka secara hukum Shalat kita tidak sah.

Pahamilah, pakaian lahir adalah nikmat dari Allah yang menutup aurat anak Adam. Pakaian merupakan kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan hamba-hambaNya, keturunan Adam a.s. Kemuliaan yang tidak pernah diberikan-Nya kepada yang lain. Pakaian juga merupakan alat bagi kaum mukmin untuk menunaikan kewajiban mereka yang telah dilekatkan oleh Allah kepada mereka.

Renungkanlah secara mendalam, bahwa Allah memulikan manusia dengan menutup aib lahiriah badani dengan berbagai jenis pakaian. Allah pula menutup aib-aib perbuatan dengan tabir malakut. Seandainya tidak ada “tabir malakut”, maka perilaku, akhlak kita akan nampak bentuknya dan “al fadhilah” serta kehinaan pun akan melekat pada kita di dunia ini. Tetapi Allah SWT menutupi dari pandangan seluruh penghuni alam ini dengan penutup milik-Nya. Allah menutupi keburukan akhlak kita dengan “bentuk malakut”, serta membentuk raga kita, dengan bentuk yang seimbang dan simetris. Renungkan dengan bentuk makhluk lain di dunia ini.

Pakaian terindah bagi kaum mukmin adalah taqwa, sedangkan pakaian ternikmat adalah iman. Sedangkan yang terbaik adalah yang tidak membuat lalai dari Allah Azza wa Jalla, bahkan mendekatkan kepada syukur, dzikir dan ketaatan kepada-Nya, bukan pakaian yang membuat bangga diri, riya, terlebih lagi sombong.

Imam Ash Shadiq a.s. berkata :

“ Apabila engkau mengenakan pakaianmu, maka ingatlah tabir Allah Ta’ala yang menutupi dosa-dosamu dengan rakhmatNya. Tutuplah batinmu dengan kebenaran, sebagaimana engkau menutup lahirmu dengan pakaian. Jadikanlah batinmu berada dalam tabir ketakutan dan lahirmu dalam tabir ketaatan”.

“Pikirkanlah karunia Allah Azza wa Jalla yang telah menciptakan bahan-bahan pakaian untuk menutupi aurat lahiriah, yang membuka pintu-pintu tobat untuk menutupi aurat batin dari dosa-dosa dan akhlak buruk. Jangan membuka aib siapapun, karena Allah telah menutup aibmu, itu lebih baik.”

“Sibukkanlah dirimu dengan mencari aib diri sendiri, berpalinglah dari sesuatu yang tidak berguna bagimu. Waspadalah agar engkau tidak menyia-nyiakan usiamu untuk pekerjaan orang lain, dan orang lain mengembangkan modalmu, sementara engkau membinasakan dirimu sendiri. Sungguh, lupa pada dosa merupakan hukuman terbesar dari Allah di dunia ini dan sebab tercepat yang mendatangkan siksa di akhirat.”

“Selama hamba sibuk dalam ketaatan kepada Alloah SWT, mengenali aib dirinya dan meninggalkan sesuatu yang mendatangkan keburukan pada agama Allah, maka ia berada di tempat yang terhindar dari segala penyakit dan tenggelam di samudera rahmat Allah Azza wa Jalla serta memperoleh bermacam-macam mutiara faedah hikmah dan bayan. Dan sebaliknya selama ia lupa pada dosa-dosanya, tidak mengenal aib-aib dirinya, dan masih bersandar pada kekuatannya sendiri, maka ia tidak akan pernah beruntung untuk selamanya.”

KEUTAMAAN MENUTUP AURAT

v Pertama: merupakan tanda ketaatan seorang muslimah kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah telah memerintahkan para wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah:

فَظْنَ وَيَحْأَبْصَارِهِنَّ مِنْ يَغْضُضْنَ لِلْمُؤْمِنَاتِ وَقُلْ
جُيُوبِهِنَّ عَلَى بِخُمُرِهِنَّ وَلْيَضْرِبْنَ مِنْهَا ظَهَرَ مَا إِلا زِينَتَهُنَّ يُبْدِينَ وَلا فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.”
(QS Annur : 31)

Dalam firmannya yang lain juga disebutkan :
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
الأولَى الْجَاهِلِيَّةِ تَبَرُّجَ تَبَرَّجْنَ وَلا بُيُوتِكُنَّ فِي وَقَرْنَ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah.” (QS. Al Ahzab: 33)

v Kedua : Hijab itu Iffah (Menjaga diri).

Allah menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ’Iffah (menahan diri dari maksiat). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Menutupi tubuh mereka untuk menghindar dan menahan diri dari perbuatan dosa, karena itulah Allah menjelaskan manfaat dari hijab ini, “kerana itu mereka tidak diganggu.” Ketika seorang muslimah memakai hijabnya dengan benar maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka dan pada firman Allah “kerana itu mereka tidak diganggu"

v Ketiga : Hijab itu kesucian.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
سَأَلْتُمُوهُنَّ وَإِذَا

وَقُلُوبِهِنَّ لِقُلُوبِكُمْ طْهَرُ أَ ذَلِكُمْ حِجَابٍ وَرَاءِ مِنْ فَاسْأَلُوهُنَّ مَتَاعًا
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Allah subhanahu wa ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan. Kerana mata bila tidak melihat maka hati pun tidak akan bernafsu. Pada keadaan ini maka hati yang tidak melihat maka akan lebih suci. Keadaan fitnah (godaan) bagi orang yang banyak melihat keindahan tubuh wanita lebih jelas dan lebih nampak. Hijab merupakan pelindung yang dapat menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya.

v Keempat : Hijab adalah pelindung.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

v Kelima : Hijab itu adalah ketakwaan.

Allah berfirman :
”Hai anak Adam, Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26)

v Keenam : Hijab menunjukkan keimanan.

Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah berfirman tentang hijab kecuali bagi wanita-wanita yang beriman, sebagaimana firmannya,

”Dan katakanlah kepada wanita-wanita beriman.” (QS. An-Nuur: 31), juga firman-Nya: ”Dan isteri-isteri orang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Dalam ayat-ayat di atas Allah menyeru kepada wanita beriman untuk memakai hijab yang menutupi tubuhnya. Ketika seorang wanita yang benar imannya mendengar ayat ini maka tentu ia akan melaksanakan perintah Tuhannya dengan senang hati. Maka bagaimanakah iman seorang wanita yang mengetahui ada perintah dari Rabbnya kemudian ia tidak melaksanakannya, bahkan ia melanggarnya dengan terang-terangan di hadapan umum?

v Ketujuh : Hijab adalah rasa malu.

Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya yang didapatkan manusia pada ucapan nubuwwah yang pertama kali: Jika kalian tidak malu maka lakukanlah perbuatan sesuka kalian.” (HR. Bukhari)

Wanita yang membuka auratnya tidak disangsikan lagi bahwa tidak ada rasa malu darinya, ia menampilkan perhiasan yang tidak selayaknya dibuka, ia mempamerkan barang berharganya yang hanya layak untuk ia berikan kepada suaminya, ia membuka sesuatu yang Allah perintahkan untuk menutupnya!

v Kelapan : Hijab adalah ghirah (rasa cemburu).

Hijab berbanding dengan perasaan cemburu yang menghinggapi seorang wanita sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju pada isteri dan anak perempuannya. Betapa banyak pertikaian yang terjadi karena wanita, betapa banyak tindakan buruk yang terjadi kepada wanita serta betapa banyak seorang lelaki gagah yang menjadi rosak kerana wanita. Wahai para wanita jagalah aurat kalian supaya kalian menjadi wanita-wanita yang terhormat! Wahai para lelaki perintahkanlah kepada keluargamu untuk menutup auratnya dan cemburulah kepada orang-orang yang dekat denganmu yang membuka auratnya di hadapan orang lain karena tidak ada kebaikan bagi seseorang yang tidak mempunyai perasaan cemburu!.

B. AKHLAQ TERCELA

1. Durhaka Kepada Orang Tua

Orang yang durhaka kepada kedua orang tua termasuk melakukan dosa besar, yang sangat besar hukumannya di hari kiamat nanti. Allah menjelaskan ;

Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[1]. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil".( QS Al Israa’ : 23-24)

Allah mengingatkan pada kita betapa besar kedua orang tua kita. Maka kita wajib berbakti padanya. Allah swt berfirman;

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[2]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu (QS. Luqman ; 14)

Tak ada untungnya durhaka kepada kedua orang tua, dan kerugiannya tampak jelas. Sebab selama di dunia pasti kita tetap memiliki ketergantungan pada mereka, minimal tempat berkeluh kesah dan tempat mengadu. Belum lagi balasan akhirat bagi seseorang yang mendurhakai mereka. Allah ikut murka bersamaan dengan kemurkaan kedua orang tua kepada anaknya. Rasulullah menegaskan;

Keridhaan Allah itu terletak pada keridhaan ibu-bapak, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua terhadap kedua ibu-bapak pula”(HR. Tirmidzi dan Hakim)

Hanya orang-orang bodoh yang mendurhakai kedua orang tuanya.

Di antara Bentuk Durhaka pada Orang Tua

’Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,
”Membuat orang tua menangis termasuk bentuk durhaka pada orang tua.”

Mujahid mengatakan,
“Tidak sepantasnya seorang anak menahan tangan kedua orang tuanya yang ingin memukulnya. Begitu juga tidak termasuk sikap berbakti adalah seorang anak memandang kedua orang tuanya dengan pandangan yang tajam. Barangsiapa yang membuat kedua orang tuanya sedih, berarti dia telah mendurhakai keduanya.”

Ka’ab Al Ahbar pernah ditanyakan mengenai perkara yang termasuk bentuk durhaka pada orang tua, beliau mengatakan,
Apabila orang tuamu memerintahkanmu dalam suatu perkara (selama bukan dalam maksiat, pen) namun engkau tidak mentaatinya, berarti engkau telah melakukan berbagai macam kedurhakaan terhadap keduanya.” (Birrul Walidain, hal. 8, Ibnul Jauziy)

Hati-hatilah dengan Do’a Jelek Orang Tua

Abu Hurairah berkata, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dengan demikian maka seseorang harus senantiasa berhati-hati terhadap perbuatan yang diperbuat, perkataan yang dikatkan, kemudian sikap yang benar ketika orang tua sedang berbicara dan menasehati. Karena barangkali sikap yang anak perbuat itu benar menurut mereka tetapi itu menyakitkan bagi orang tua. Dalam sebuah peribahasa indonesia juga disebutkan;

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang jalan

Itu menunjukkan betapa besarnya kasih sayang orang tua kepada anak sehingga bakti anakpun tidak ada apa-apanya di mata orang tua.

2. Berbuat Munafiq

Pengertian Munafiq

Adalah orang munafiq itu termasuk golongan orang yang tidak mendapatkan hidayah atau petunjuk dari allah sehinga jalan hidupNya yang di tempuh tidak lah mengandung nilai-nilai ibadah dan segala amal yang di kerjakan tidak mencari keridhoan alloh.Orang munafiq adalah orang yang bermuka dua mengaku beriman padahal hatinya ingkar. Perbuatan orang munafiq disebut Nifaq.mereka ini hanya pada mulutnya saja, Dari tanda-tanda tercela orang-orang munafiq

a. Ingin menipu daya Allah. Di dalam Al Qur`an Allah berfiman;

A.

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,[3]" pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar [QS ; Al Baqoroh 8-9].

b. Tidak mau di ajak berhukum dengan hukum Allah dan RasulNya dalam firman Allah surat Annisa ayat 61 disebutkan ;

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah Telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu ( QS Annisa; 61).

c. Lebih suka memilih orang kafir sebagai pemimpin.

Dalam Al Qur’an disebutkan ;

(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah (QS Annisa ; 139).

d. Malas menegakan sholat akan tetapi kalau sholat suka menunjuk-menunjukan atau riya Allah berfirman;

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[4]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[5] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[6] (QS Annisa; 142).

e. Berdusta apabila menyalahi janji dan khianat/tidak amanat.

Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw :

Tanda-tanda orang munafiq ada 3 macam;

i. Apabila berkata suka dusta

ii. Apabila berjanji suka hianat

iii. Apabila di beri amanat suka khianat

f. Perbuatan tercela ketika mengingkari janji

(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang orang yang rugi (QS Al Baqarah ; 27)

Dalam firman Allah yang lain juga disebutkan ;

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih (QS

Juga difirmankan dalam ayat lain ;

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, Karena mereka itu tidak beriman. (yaitu) orang-orang yang kamu Telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya). Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, Maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat (QS ; 55-58)

g. Membunuh jiwa secara disengaja

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[7]. dan barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya kami Telah memberi kekuasaan[8] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan ( QS Al Israa ; 33)

3. Mencuri

Disebut pencuri atau dalam bahasa Arab sariqu. M enurut Kamus Besar bahasa Indonesia, mencuri diartikan mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Secara istilah yang dimaksud mencuri ialah mengambil milik orang lain untuk dijadikan milik sendiri dengan cara yang tidak sah, baik menurut hokum adat maupun agama. Sedangkan, yang termasuk dalam perbuatan mencuri, antara lain mencopet, merampok, membajak, korupsi. Pekerjaan mencuri mestinya tidak lazim dilakukan manusia sebagai hamba Allah karena manusia adalah makhluk Allah yang diberikan kelebihan dari makhluk yang lain. Salah satu kelebihan manusia adalah dibekali akal yang mampu menerima agama yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan.

Mencuri sebagai kemungkaran yang sangat merugikan orang lain, baik dalam hal materiil maupun imateriil, berupa kekecewaan atau kesedihan. Perbuatn mencuri dapat merugikan secara perseorangan, kelompok sampai merugikan Negara. Syariat Islam sangat melindungi hak milik perorang, kelompok maupun Negara. Allah telah menetapkan hukuman bagi pelaku pencurian yang telah memenuhi ketentuan hokum. Firman Allah swt, sebagai berikut.

وَالسَّارِقُ وَالسّاَرِقَةُ فَاقْطَعُوْا اَيْدِيَهُماَ جَزاَءً بِمَا كَسَباَ نَكاَلًا مِنَ اللهِ وَ اللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. al- Ma’idah/5:38)

عَنْ عاَئِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَ: ياَ أَيُّهاَ النّاَسُ إِنّماَ ضَلَّ مَنْ كاَنَ قَبْلَكُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا اِذاَ سَرَقَ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ, فَإِذاَ سَرَقَ الضَّعِيْفُ فِيْهِمْ اَقاَمُوْاعَلَيْهِ الحَدَّ. وَاللهِ لَوْ أَنَّ فاَطِمَةَ بِنْتُ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهاَ رواه البخارى

Artinya : Dari Aisyah r.a. Rasulullah saw, bersabda, “wahai manusia, sungguh tersesat, umat sebelum kamu, sesungguhnya mereka tu adalah apabila ada orang yang mulia mencuri, mereka meninggalkannya dan apabila orang lemah mencuri, bagi mereka ditegakkan hokum. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti Muhammad yang memotong tangannya.” (H.R. al-Bukhari no. 3216)

Ayat dan hadits diatas begitu tegas memberikan hukuman bagi pelaku pencurian sebab jika seseorang yang melakukantidak pencurian tidak dikenai hukuman yang telah ditetapkan Allah di dunia, maka nanti di akhirat siksanya jauh akan lebih berat dibandingkan siksaan hukuman yang dilakukan di dunia.

Akibat negatif dari perbuatan mencuri diantaranya sebagai berikut :

a. Menentang hukum Allah, perbuatan mencuri sebagai perbuatn yang dilarang agama karena membawa mudarat yang besar bagi kehidupan manusia.

b. Mengabaikan norma di masyarakat, setiap masyarakt memiliki norma yang bertujuan untuk menjamin keselarasan dan keharmonisan kehidupan.

c. Menyengsarakan kehidupan pribadi dan keluarga, perbuatn mencuri dapat menyebabkan pelakunya menjadi sengsara secara batin.m

d. Menjadi penyebab terbukanya pintu kejahatan, apabila seorang telah melakukan pencurian, maka sesungguhnya mereka telah memasuki pintu gerbang kejahatan.

Untuk menghindari parbuatsan mencuri ada beberapa upaya yang bisa dilakukan. Islam menanggulangi kasus pencurian dengan cara mendidik dan membersihkan jiwa manusia dengan akhlak yang luhur agar jangan memiliki hak orang lain. Di samping itu, Islam mengajak kaum muslimin agar giat bekerja mencari penghidupan, membensi pengangguran, dan mencela sifat kikir.

Adapun hikmah menghindari perbuatan mencuri adalah, antara lain meghormati ataupun menjaga hak milik, menjaga harga diri, membawa ketenangan hati.

Sumber Referensi ;

1. Rahman Abdul Roli dan Khamzah M :, Menjaga Akidah dan Akhlak, Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri 2008.

2. Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1426H/2005. Yayasan Lajnah Istiqomah

3. http://wildaznov11.blogspot.com/2009/06/ukhuwah-islamiyah.html

4. Maksum Syukron Muhammad ; Dosa Bikin Hidup Menderita. Yogyakarta. Madina press. 2010.

5. Aidh bin Abdullah Al Ar Qarni. Visualisasi Kepribadian Muhammad. Penerbit Irsyad Baitussalam Tahun.2006



[1] mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

[2] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.

[3] Hari kemudian ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang masyar sampai waktu yang tidak ada batasnya

[4] Maksudnya: Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. dalam pada itu Allah Telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.

[5] riya ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.

[6] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

[7]maksudnya yang dibenarkan oleh syara' seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

[8] Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau Penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat. Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih. Diat ialah pembayaran sejumlah harta Karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

Tidak ada komentar: